Postingan

Menampilkan postingan dengan label air

KULIAH KERJA NYATA: Penjernih Air untuk Membantu Transmigran

Gambar
F uad Atthoriq (22) mengangkat dua gelas. Satu gelas berisi air berwarna kecokelatan, sementara gelas lain berisi air bening. "Ini sama-sama air dari sungai di sini, tetapi yang satu sudah dimurnikan melalui beberapa proses," katanya. Fuad lalu menunjukkan instalasi penjernih air yang ia pakai untuk "menyulap" air kotor kecokelatan menjadi air bening tak berwarna. Instalasi yang terdiri atas sejumlah pipa dan bak penampung air itu terpasang di halaman belakang Puskesmas Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Sabtu (27/7/2019) sore, Fuad memperagakan cara kerja instalasi penjernih air tersebut. Fuad adalah mahasiswa Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) di Kecamatan Rasau Jaya. Dalam pelaksanaan KKN di Rasau Jaya, UGM bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Sejak 30 Juni hingga 18 Agus...

Masih Ada yang Tertinggal

Gambar
Air bagi semua dan tak boleh seorang pun tidak mendapatkannya. Itu sulit tercapai jika melihat realitas komodifikasi air sebagai barang ekonomi dan akses tak merata. Hak asasi atas air jauh dari jangkauan. A genda Pembangunan Berkelanjutan 2030 menekankan keadilan, kesetaraan, dan memilliki moto no one left behind . Semua harus menikmati semua. Demikian juga tentang air. Air ialah sumber kehidupan dan kebutuhan dasar makhluk hidup. Maka, Hari Air Sedunia tahun 2019 diperingati tiap tanggal 22 Maret mengusung tema "Tak Meninggalkan Siapa Pun". Sasaran ke-6 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yakni memastikan tercapainya ketersediaan dan pengelolaan air berkelanjutan bagi semua orang pada 2030. Target itu bermakna: tak seorang pun boleh tertinggal, semua mendapatkan. Pencanangan Hari Air Sedunia dilakukan sejak 1992, lebih dari tiga dekade lalu, tetapi hingga kini soal kebutuhan dasar hidup itu tak teratasi. Masalah ketersediaan air tak terbatas pada hal teknis, tetapi ada b...

Lestarikan Air, Mulai dari Diri Sendiri

Gambar
USAHA pelestarian air membutuhkan keterlibatan semua pihak. Tak hanya pemerintah, masyarakat pun punya tanggung jawab yang sama besar, meski dalam lingkup yang lebih kecil. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk turut menjaga sumber daya paling berharga ini. Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hari Suprayogi menekankan pentingnya peran masyarakat ini ketika diwawancarai pada Senin (18/3/2019). Hari mengatakan, upaya-upaya untuk menjaga air harus menyeluruh, mulai dari yang struktural sampai dengan nonstruktural. "Yang nonstruktural misalnya menanami kembali daerah hulu sehingga bisa kembali menangkap air. Ada juga aspek kultural yang menyangkut kebiasaan atau pola hidup masyarakat. Menjaga sumber air dari sungai bisa dilakukan dengan hal sederhana, tidak membuang sampah ke sungai misalnya," ujar Hari. Selain itu, ada beberapa upaya lain yang bisa dilakukan di rumah. Pertama, menggunakan kembali air ...

Ayo Bijak Menggunakan Air

Gambar
"Tutup keran airnya kalau sedang menyikat gigi, Kak, supaya hemat airnya," ujar Ade (35). Bagi Ade, mengingatkan putra tertuanya yang berumur 7 tahun, dan anggota keluarga lainnya, agar lebih bijak menggunakan air bukan sekadar masalah biaya tagihan air. Namun, juga merupakan upaya menjaga ketersediaan air bersih. RINI  (48) juga melakukan hal yang mirip dilakukan Ade dalam hal menggunakan air secara bijak. Hanya, Rini lebih suka menempelkan imbauan pada area-area tertentu. Misalnya, terdapat tulisan "matikan keran saat menyikat gigi", "gunakan air secukupnya saat mandi", atau kalimat "nyalakan air hanya pada saat membilas" pada area dapur. Hal ini bisa jadi pada sebagian orang terlihat sepele. Namun, bagi Rini hal ini akan mengingatkan orang sekaligus membuat mereka disiplin dan bijak menggunakan air bersih. Jika ternyata biaya tagihan berkurang, hal itu merupakan "bonus" baginya. Dari polling  yang dilakukan Kompas Klasika me...

AIR HUJAN RASA URBAN

Gambar
OLEH MAWAR KUSUMA & REGINA RUKMORINI Karena keadaan yang memaksa, warga desa sejak dulu terbiasa mengonsumsi air hujan. Tetapi belakangan para peminum air hujan meluas sampai ke kota seperti Jakarta. Masyarakat urban memperlakukan air jatuhan langit itu sebagai bagian dari gaya hidup sehat. D ari mulut ke mulut, konsumen air hujan yang disetrum menyebar ke sejumlah daerah, seperti Muntilan, Jawa Tengah; DI Yogyakarta; hingga luar Jawa, seperti Papua, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan. Salah satu yang jatuh cinta pada air hujan terelektrolisis buatan sendiri di Jakarta adalah putri mantan presiden Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid. "Saya sampai kaget karena ibu saya berpesan, jangan lupa habis shalat baca alhamdulillah banyak-banyak. Dikasih jalan lewat air hujan, insya Allah bisa sembuh, harus banyak bersyukur. Padahal, saya pikir ibu saya enggak peduli hal-hal kayak gini . Ibarat doa yang kejawab ," kata Inayah tentang konsumsi air hujan terionisasi itu.  ...

Shailene Woodley: Kaldu dari Tulang

Gambar
P EMERAN  Beatrice "Tris" Prior dalam film layar lebar, "The Divergent" dan sekuelnya, "Insurgent", Shailene Woodley  (23) mengungkapkan selera diet terbarunya, yaitu memasak sendiri makanannya dengan menggunakan kaldu dari tulang. Aktris cantik yang tengah naik daun ini memang dikenal memiliki gaya hidup alternatif. "Kedengarannya memang aneh. Akan tetapi, jika Anda makan steak, akan tersisa tulangnya. Anda sebaiknya menghormati hewan tersebut dengan memanfaatkan juga tulangnya," tuturnya kepada MTV News sebagaimana dikutip laman eonline.com. Ia pun mengungkapkan cara membuat kaldu dari tulang. "Masak tulang bersama air dalam kuali selama 24 jam. Tambahkan sedikit sari cuka apel, bawang merah, dan bawang putih. Oh, rasanya benar-benar lezat. Anda juga bisa mencampurkan minyak kelapa untuk menambah cita rasanya," tuturnya. Perempuan kelahiran Simi Valley, California, Amerika Serikat ini juga sangat peduli dengan lingkungan. ...

Hujan, Alternatif Air Bersih

Gambar
BANDUNG, (PR).- Untuk menyiasati keterbatasan air tanah, masyarakat bisa mulai memanen air hujan sebagai alternatif sumber air bersih. Dengan curah hujan rata-rata 150 mm/bulan, air hujan menjadi alternatif sumber air bersih potensial di Indonesia. Beberapa waktu lalu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, keberadaan air tanah di Kota Bandung menuju kritis setidaknya pada lima tahun mendatang. Kondisi ini diperparah dengan masih buruknya kualitas air baku dari Sungai Citarum dan anakannya, Sungai Cikapundung, untuk digunakan masyarakat. "Dari latar belakang itulah, beberapa solusi untuk mencari sumber air bersih alternatif mulai dicari. Salah satunya dari air hujan yang merupakan air baku yang paling mudah diolah. Mengingat tetesan air hujan tersebar ke mana-mana, maka diperlukan suatu mekanisme untuk memanen atau mengumpulkannya ke dalam sebuah reservoir untuk diolah menjadi air bersih," ujar Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pasundan Yonik Meilawati Yu...

TIPS KELUARGA ECO-FRIENDLY: Pentingnya Peran Ibu

Gambar
Perilaku cinta lingkungan alias green living  bisa dimulai dari keluarga. Mulai dari pemilahan sampah rumah tangga, penggunaan air yang bijak, serta penghematan daya listrik. S udah lama Egi Sutjiati (47) menaruh perhatian pada masalah lingkungan. Ia suka melihat rumput hijau, air bersih, taman kota, dan lingkungan asri yang tertata rapi. Namun, ia mengaku tak bisa berbuat banyak untuk mengubah lingkungan. Yang bisa ia lakukan, "Saya memulai pola hidup go green  dari rumah. Kebetulan saya pernah menghadapi masalah sampah di lingkungan tempat tinggal saya di Jatimurni, Bekasi," kisah Egi, pemerhati lingkungan.  Egi menceritakan, beberapa tahun lalu penggunaan bak sampah belum begitu banyak di lingkungan tempat tinggalnya. Untuk memberi contoh kepada warga sekitar, ia lalu sengaja membuat bak sampah di depan rumahnya dengan ukuran cukup besar, yaitu panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 1 meter. "Sebenarnya, sampah rumah tangga tidak begitu banyak. Tapi, kok...

CERITA PARA PEJUANG LINGKUNGAN: Gerakan Hijau Tak Hanya Semboyan

Gambar
Lewat lingkungan terkecil, mereka berjuang mengelola lingkungan menjadi lebih baik. Hasil manis pun berhasil dipetik. Tempat tinggal mereka pun jadi lebih hijau dan segar. RITA PUNTO Bidik Anak-anak T iga tahun lalu, Rita Punto (39) merintis Wahana Hijau Hayati (WHH) di tempat tinggalnya di sebuah kampung di Jatisari, Bekasi. "Saya pikir gerakan go green bisa dimulai di lingkungan terkecil, yaitu tempat saya tinggal," kisah Rita. Pertama kali tinggal di Jatisari, lingkungan rumahnya kurang begitu sehat. Masyarakat sekitar yang memiliki ternak seperti kambing dan sapi, membiarkan begitu saja kotoran ternaknya. "Buang limbah ternak sembarangan saja. Bisa di bawah pohon pisang dan jalanan. Kalau turun hujan, baunya ke mana-mana." Pelan-pelan Rita mengundang bapak-bapak. "Di sini ada organisasi Forum Betawi Rempug. Saya bersilaturahmi dengan mereka. Saya ajari mereka mengolah limbah ternak jadi kompos," tutur Rita yang memulai gerakan ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...