Postingan

Menampilkan postingan dengan label hutan adat

HUTAN ADAT: Merawat Tembawang, Merawat Kehidupan

Gambar
Emanuel Edi Saputra Hutan bagi suku Dayak tidak hanya aset ekonomi. Lebih dari itu, hutan menjadi simbol persatuan, spiritualitas, menyimpan nilai historis, dan ruang mentransfer pengetahuan antargenerasi. S embolon (44), warga Dayak Tae di Desa Tae, Kecamatan Balai Batang Tarang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, menapaki hutan di desa itu. Di lengannya tergantung wadah dari rajutan rotan yang oleh masyarakat setempat disebut ngkalakng . Saat tiba di pohon buah lokal yang disebut mpuak, Sembolon memanjat dan memanen buah itu, kemudian memasukkannya ke ngkalakng . Buah mpuak  itu bentuknya bulat berdiameter 4-5 sentimeter, kulitnya merah kecokelatan, isinya putih menyerupai manggis, dan rasanya manis. Selain buah mpuak , di hutan itu ada juga buah rambai yang kulit dan isinya putih menyerupai duku. Ada pula buah durian dan manggis. Selain buah-buahan, terdapat pula tanaman obat, misalnya daun patah kemudi untuk obat demam, sakit perut, dan bengkak. Selain itu, kumis ku...

Mereka yang Masih Pedalaman

Gambar
P ekanbaru diserbu masyarakat pedalaman. Awal September lalu, ribuan orang bercawat maupun berpakaian kulit rusa tampak lalu-lalang di tengah kota. Mereka berkumpul untuk meramaikan Festival Seni Budaya Masyarakat Pedalaman Asia Pasifik. Beberapa orang masih tampak bingung melihat kendaraan yang berlalu-lalang, dan tak sedikit pula yang kesasar. Panitia, tampaknya, mengambil hikmah dari pengalaman dan segera melengkapi tiap peserta dengan badge yang di baliknya tertulis alamat penginapan. Jadi, kalau mereka kesasar dan tak bisa berkomunikasi dengan masyarakat Pekanbaru, orang-orang itu tetap saja bisa diantar pulang ke penginapan. Tapi tak sedikit pula peserta festival dengan kaus oblong dan celana pendek ketat yang menelusuri Pekanbaru bak wisatawan. Memang, tak jelas lagi kelompok masyarakat yang bagaimana yang masih bisa disebut sebagai masyarakat pedalaman. Pemerintah Daerah Riau, sebagai penyelenggara festival, membatasi masyarakat pedalaman dalam tiga kelompok, yaitu mas...

Tatkala Gajah Berlaga Pelanduk pun Terjepit

Gambar
F estival Budaya Pedalaman se-Asia Pasifik berlangsung di Pekanbaru, pada 2-5 September lalu. Walaupun ada yang berpakaian cawat dan kulit kayu, pengalaman mereka tentang sistem ekologi sangat canggih. Karena itu, ada orang yang menyebut bahwa inilah festival yang menyindir-nyindir kaum kapitalis perusak hutan. Lalu, apa problem yang dihadapi suku pedalaman itu? Siapa saja mereka? Kenapa maksud baik dilakukan tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota Perkebunan yang luas hanya menguntungkan segolongan kecil saja .... C uplikan sajak di atas bisa didengar dalam film Yang Muda Yang Bercinta, yang sedang beredar di pelosok-pelosok kota di negeri ini. W. S. Rendra, penyair yang membaca sajaknya itu dalam film, memang tidak hadir pada Festival Budaya Pedalaman se-Asia Pasifik yang berlangsung di Pekanbaru, awal September lalu. Tetapi, betapa makna puisinya merasuk kental di sana. Bahwa kaum kapitali...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...