Hujan, Alternatif Air Bersih

BANDUNG, (PR).-

Untuk menyiasati keterbatasan air tanah, masyarakat bisa mulai memanen air hujan sebagai alternatif sumber air bersih. Dengan curah hujan rata-rata 150 mm/bulan, air hujan menjadi alternatif sumber air bersih potensial di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, keberadaan air tanah di Kota Bandung menuju kritis setidaknya pada lima tahun mendatang. Kondisi ini diperparah dengan masih buruknya kualitas air baku dari Sungai Citarum dan anakannya, Sungai Cikapundung, untuk digunakan masyarakat.

"Dari latar belakang itulah, beberapa solusi untuk mencari sumber air bersih alternatif mulai dicari. Salah satunya dari air hujan yang merupakan air baku yang paling mudah diolah. Mengingat tetesan air hujan tersebar ke mana-mana, maka diperlukan suatu mekanisme untuk memanen atau mengumpulkannya ke dalam sebuah reservoir untuk diolah menjadi air bersih," ujar Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pasundan Yonik Meilawati Yustiani ketika ditemui di ruang kerjanya, Kamis (5/12/2013). 

Menurut Yonik, setidaknya ada tiga fase memanen air hujan hingga dapat digunakan bahkan dikonsumsi. Pertama, tahapan pengumpulan air hujan. "Sederhana saja, cukup dibuat talang air sehingga cucuran air hujan tidak langsung jatuh ke tanah melainkan tersalurkan hingga bak penampung," ujarnya.

Kedua, mengolah air hujan agar layak digunakan, melalui proses netralisasi pH air dengan menggunakan saringan keramik, dan dialirkan melalui karbon aktif untuk mengurangi bau, warna, sekaligus menyisihkan partikulat seperti debu. "Hingga fase ini, air hujan sudah dapat digunakan untuk mandi atau cuci kakus. Hanya saja agar dapat diminum, harus masuk fase ketiga yakni dibuat higienis salah satunya dengan mengalirkan seraya disinari UV (lampu ultraviolet)," kata Yonik.

Percontohan

Sejak akhir Desember 2012, Unpas ditunjuk Pemerintah Kota Bandung untuk membuat percontohan memanen air hujan di gedung atau bangunan. Program pemkot ini didanai oleh UNESCAP (United Nation Economic Socio Comission for Asia and The Pacific) senilai 68.000 dolar AS. Pada akhir 2012, Yonik beserta tim dari Teknik Lingkungan Unpas membuat desain, sistematika, serta perhitungannya untuk mewujudkan program memanen air hujan yang diberi nama Ripah Reka Sunda (Rangkaian Instalasi Pengelolaan Air Hujan Rekayasa Pasundan) ini. Lokasi percontohan adalah asrama mahasiswa di Kampus Unpas Jalan Setiabudhi Bandung.

Dari dua gedung asrama didapat luas atap sebesar 550 meter persegi. Setelah dibuat talang air dan bak penampung (reservoir), jika turun hujan dengan kecepatan rata-rata 150 mm/bulan diasumsikan akan mampu menampung 38 meter kubik. Berdasarkan perhitungan, jumlah air sebesar ini mampu melayani kebutuhan mandi dan cuci kakus 200 mahasiswa per hari.

Menurut dia, sistem memanen air hujan ini bisa menjadi solusi bagi daerah-daerah yang selama ini kesulitan air. Hanya saja, untuk dipraktikkan langsung di tingkat perumahan, Yonik mengaku masih harus membuat perhitungannya dahulu. (A-176) ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 9 Desember 2013





Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...