Postingan

Menampilkan postingan dengan label sampah

Aryani Widagdo: Mendesain Pakaian Bebas Sampah

Gambar
Nina Susilo/Agnes Swetta Pandia Aryani Widagdo (71) mendorong banyak orang untuk mendesain pakaian yang minim sampah. Setelah puluhan tahun menekuni dunia mode, dia mendirikan Aryani Widagdo Creativity Nest yang bergerak di bidang riset, pendidikan mode, dan seni menjahit. Pandemi Covid-19 yang membatasi gerak hampir semua orang tidak menghentikan langkah Aryani. Aktivitas berbagi ilmu dari Aryani Creativity Nest di Surabaya, Jawa Timur, malah semakin luas dengan pelatihan secara daring. Aryani mengadakan pelatihan menjahit pakaian dengan cara zero waste fashion design (desain pakaian bebas sampah). Cara menjahitnya menggunakan pola tanpa rongga sehingga tidak menyisakan kain. Kalaupun tersisa hanya sedikit sekali, berupa benang-benang. Dengan cara ini, pakaian yang dihasilkan bebas sampah dan lebih ramah lingkungan. Aryani juga menggunakan kain tradisional, seperti lurik, batik, atau kain linen dari serat alami. Awalnya, dia mengajar dengan menggunakan pola karya desainer dari Patric...

Muryani: Inovasi Destilator Sampah Plastik

Gambar
Defri Werdiono Sejak tahun 2009, Muryani (60) yang mengenyam pendidikan sampai kelas 1 SMP berhasil membuat destilator sampah plastik secara otodidak. Sembilan tahun terakhir, dia memproduksi destilator yang mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak sebanyak lebih dari 100 unit. Di tengah panas terik yang menerpa pinggir Kelurahan Wlingi di Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Kamis (23/6/2019) siang, Muryani beristirahat sejenak. Dia sedang berada di kantor bank sampah tingkat kelurahan, tepat di sisi makam desa. Sementara itu, di bengkel kerja yang berlokasi tidak jauh dari Muryani berada, salah seorang anaknya, Diding Rulianto, sibuk menyelesaikan destilator pesanan konsumen. Alat itu dibuat secara manual. Dibantu oleh adik kandung Suripto dan Diding, Muryani membutuhkan waktu rata-rata 20 hari untuk membuat sebuah destilator. Satu unit mesin berkapasitas 10 kilogram sampah dijual seharga Rp 30 juta, kapasitas 30 kilogram seharga Rp 55 juta, da...

Vania Santoso: Mengolah Sampah, Menghargai Manusia

Gambar
OLEH AGNES RITA SULISTYAWATY Sampah menjadi perhatian Vania Santoso (23) sejak 10 tahun silam. Ketekunan dan kegigihan mewujudkan mimpi membuatnya bisa merealisasikan bank sampah di Jemursari, Surabaya, serta tas berbahan daur ulang. Kini, usaha itu menghidupi dirinya berikut 10 anggota timnya. B erbagai penghargaan nasional dan internasional diperoleh Vania sejak di bangku SMP hingga kini, sebagai hasil konsistensinya mengurangi sampah. Tahun ini, Vania beserta tas merek Startic mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain menjadi satu dari enam pemenang Young Social Entrepreneur dari Singapore International Foundation, 23 Oktober. Sekilas, tas buatannya menyerupai tas merek ternama yang berbahan kulit sapi. Namun, jangan salah. Bahan baku tas ini memanfaatkan kantung semen yang sudah diolah sehingga penampilannya mirip kulit. Beberapa tas dibuat dengan kombinasi kantong semen dengan kain songket atau kulit sapi. "Dulu, saya dan tim tidak fokus membuat tas. Tas ...

Pekarangan untuk Ketahanan Pangan

Gambar
S ECARA global, daya beli yang semakin lemah jelas akan memengaruhi ketahanan pangan. Oleh karena itu, berbagai langkah pun dilakukan oleh pemerintah untuk mempertahankan ketersediaan dan akses masyarakat terhadap bahan pangan, di antaranya pemanfaatan pekarangan untuk budi daya tanaman pangan. Salah satu yang menggagas hal tersebut adalah Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Bandung. Sejak beberapa tahun lalu, instansi tersebut sudah menularkan penanaman berbagai jenis tanaman pangan dengan media polybag . Tidak hanya sayuran dan buah-buahan, tanaman padi yang menjadi makanan pokok masyarakat tanah Jawa pun mulai dibudidayakan dalam media tersebut. Kepala Distanbunhut Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan, saat ini pihaknya sudah memelopori pembudidayaan hampir seluruh jenis tanaman pangan dalam polybag  di pekarangan. "Kami contohkan lebih dulu di pekarangan kantor Distanbunhut dan kemudian menyebar ke kantor pekarangan dinas lain di lingku...

KOTA KENDARI: Membalik "Kutukan" Sampah

Gambar
OLEH MOHAMAD FINAL DAENG Sampah adalah "kutukan" yang dihadapi masyarakat perkotaan di segala penjuru bumi. Namun, khusus Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, kini sudah membalik kutukan itu menjadi berkah karena penerangan dan kebutuhan memasak warga menggunakan energi dari pengolahan sampah. K ampung mungil di pinggiran Kendari itu sepi saat dikunjungi pada Senin (27/4) siang. Rumah-rumah kayu sederhana dengan warna cat seragam putih-biru berderet rapi di tepi jalan. Di salah satu sudut terpampang sebuah spanduk besar bertuliskan "Selamat Datang di Kampung Mandiri Energi". Seperti bunyi spanduk itu, mayoritas warga di kampung yang terdiri dari 126 rumah tersebut sudah tak pusing lagi akan urusan energi untuk keperluan masak dan penerangan. Hal itu berkat "tambang" gas metana (CH4) yang terletak tak jauh dari kampung. Kampung Mandiri Energi berlokasi sekitar 500 meter dari kompleks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Puuwatu di Kecamatan Puuwatu, K...

TIPS KELUARGA ECO-FRIENDLY: Pentingnya Peran Ibu

Gambar
Perilaku cinta lingkungan alias green living  bisa dimulai dari keluarga. Mulai dari pemilahan sampah rumah tangga, penggunaan air yang bijak, serta penghematan daya listrik. S udah lama Egi Sutjiati (47) menaruh perhatian pada masalah lingkungan. Ia suka melihat rumput hijau, air bersih, taman kota, dan lingkungan asri yang tertata rapi. Namun, ia mengaku tak bisa berbuat banyak untuk mengubah lingkungan. Yang bisa ia lakukan, "Saya memulai pola hidup go green  dari rumah. Kebetulan saya pernah menghadapi masalah sampah di lingkungan tempat tinggal saya di Jatimurni, Bekasi," kisah Egi, pemerhati lingkungan.  Egi menceritakan, beberapa tahun lalu penggunaan bak sampah belum begitu banyak di lingkungan tempat tinggalnya. Untuk memberi contoh kepada warga sekitar, ia lalu sengaja membuat bak sampah di depan rumahnya dengan ukuran cukup besar, yaitu panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 1 meter. "Sebenarnya, sampah rumah tangga tidak begitu banyak. Tapi, kok...

CERITA PARA PEJUANG LINGKUNGAN: Gerakan Hijau Tak Hanya Semboyan

Gambar
Lewat lingkungan terkecil, mereka berjuang mengelola lingkungan menjadi lebih baik. Hasil manis pun berhasil dipetik. Tempat tinggal mereka pun jadi lebih hijau dan segar. RITA PUNTO Bidik Anak-anak T iga tahun lalu, Rita Punto (39) merintis Wahana Hijau Hayati (WHH) di tempat tinggalnya di sebuah kampung di Jatisari, Bekasi. "Saya pikir gerakan go green bisa dimulai di lingkungan terkecil, yaitu tempat saya tinggal," kisah Rita. Pertama kali tinggal di Jatisari, lingkungan rumahnya kurang begitu sehat. Masyarakat sekitar yang memiliki ternak seperti kambing dan sapi, membiarkan begitu saja kotoran ternaknya. "Buang limbah ternak sembarangan saja. Bisa di bawah pohon pisang dan jalanan. Kalau turun hujan, baunya ke mana-mana." Pelan-pelan Rita mengundang bapak-bapak. "Di sini ada organisasi Forum Betawi Rempug. Saya bersilaturahmi dengan mereka. Saya ajari mereka mengolah limbah ternak jadi kompos," tutur Rita yang memulai gerakan ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...